Rabu, 29 Oktober 2014

Misteri (sebuah cerpen)



                Geliat pagi baru saja menyapa Bumi Pertiwi bagian tengah yang terlelap oleh Selimut Dewi malam. Semburat cahaya malu-malu Sang Matahari mulai membangunkan kehidupa disisi Sungai Mahakam.
                Speed boat dan kapal-kapal kecil mulai bergerak, perahu-perahu menjauh dari dermaga, para wanita bertugas selayaknya kodratnya. Para pria meninggalkan rumah-rumah mencari dan menjemput rezeki di sepanjang Mahakam. Sekelompok anak-anak berlarian kesatu titik di sisi sungai, berkejar-kejaran menikmati ritual mandi ala anak sungai, perenang alam.
                Suara mesin speed boat memecah hikmatnya pagi di tepian sungai, kemudian meninggalkan dermaga mengantarkan para pelanggan dari hulu ke hilir, atau dari hilir ke hulu.
                Sebuah mobil van hitam berhenti di areal parkir dermaga kecil yang terbuat dari kayu. 4 orang laki-laki dan 2 orang perempuan, usia remaja keluar dari mobil. Salah satu laki-laki membuka bagasi dan mengeluarkan tas-tas dari dalam mobil, yang lain menyusul dan mengambil tas masing-masing dan menyandangnya.
                Keenam anak muda itu menuruni tangga dermaga yang terbuat dari kayu ulin, yang disusun rapi. Sebuah warung sederhana menanti di ujung tangga, menghadap ke sungai Mahakam. Serentak tanpa komando keenamnya menyerbu warung itu. Mengintip isi etalase. Sebagain menatap nafsu udang gala goreng yang masih mengeluarkan uap panas, tanda baru selesai proses masak. Tanpa basa basi memesan dengan yakin, dan langsung memilih meja di dalam warung.
                Lebih dari 10 jam yang lalu Santi, Rian, Dody dan Ari buat pertama kali menjejakan kaki mereka di Bumi Etam, setelah penerbangan selama 2 jam dari Jakarta. Lintang, teman dunia maya Rian dan Santi mengundang Rian dan Santi untuk melakukan lawatan ini. Dengan berbagai photo yang menggiurkan yang dikirimkan Lintang via Facebook, BBM dan email. Akhirnya sajian udang gala besar dan dinding batukapur di aliran Mahakam membuat Rian dan Santi merencakan liburan long week end di Melak, Kalimantan Timur. Dody dan Ari yang diajak ikut meriahkan acara liburan ga berpikir panjang untuk menyatakan kesediaan ikutnya, jiwa keduanya ga pernah puas dengan petualangan dan alam perawan. Bahkan Ari sudah menghayal berjalan di tengah jejeran pohon-pohon kayu besar, sayangnya Ari adalah mahluk yang khayalannya suka lebay.
“Aku membayangkan hutan perawan yang tak tertembus matahari siang dan orang-orang dayak yang mengikat orang asing yang berniat jahat yang masuk ke kampungnya ke tiang ditengah perkampungan.” Ari mengungkapkan hayalannya yang segera dijawab gaplokan di punggungnya yang cukup membuatnya tersedak dan segera menghapus hayalan gilanya.
“Ini sungai Mahakam, bro. Bukan Amazon. Lu kira suku Indian.” Rian menepuk punggung.
“Mmmmm….kalau gitu gadis-gadis dayak yang mandi di sungai dong. Mereka sudah kenal busana belom yah? Seperti masyarakat di Papua gitu.” Kali ini Santi yang menjawab khayalan gila Ari sambil sedikit melotot. “Yah ga lah. Orang Dayak sudah kenal busana dari kapan tau. Lu tuh ye, jangan ngayal macem-macem deh. Otak mesum.”
                Seperti perjanjian yang dibuat saat perencanaan lawatan ke Kalimantan Timur ini, Lintang menjemput ke empat temannya di Bandara Sepinggan, Balikpapan. Dan langsung ke Samarinda melewati hutan bukit Suharto yang membuat Santi enggan menutup kaca mobilnya, menghirup dalam-dalam udara sejuk ditengah hutan cemara.
“Oksigen murni dan bersih. Jarang-jarang dapat barang kaya’ gini.” Komentar Santi.
                Tidak terasa mobil sudah memasuki kota Samarinda yang dibelah Sungai Mahakam. Tongkang bermuatan batubara dan gelondongan kayu-kayu besar menjadi pemandangan di badan sungai dan menjadikan sebuah pertanyaan besar yang terlontar dari mulut Dody: “Legal ga tuh?” Dan di jawab ga pasti oleh Lintang: “antara iya dan ga.” Dody memalingkan wajahnya ke arah Lintang penuh tanya sesaat. Dan kembali menekurin pemandangan yang sama sekali beda dengan Jakarta. “Kita singgah di rumah Vera yah. Kita istirahat sebentar, sekalian jemput Vera.” Lintang memberi pengumuman.
 “Vera jadi ikut ga?” Sinta bertanya.
“Aku ga bisa memastikan, soalnya berkaitan dengan kepercayaan orang sini.” Jelas Lintang.
“Maksud kamu?” Dody bertanya penasaran.
“Tanya Vera langsung aja yah. Aku juga ga ngerti itu.”
“Yah….padahal kan asik kalo Vera ikut, gue jadi ga perempuan sendiri.”
                Semua memilih diam. Hingga mobil memasuki sebuah perumahan, dan berhenti disebuah rumah berpagar hijau. Dan parkir dengan sukses di sebuah lapangan kecil.
                Setelah ritual kesopanan ketika bertemu orang tua dan teman baru selesai. Masing-masing mencari posisi nyaman buat  sejenak istirahat. Debat sempat terjadi saat mama Vera keberatan putrinya ikutan di dalam speed boat dengan alasan, sebagai orang asli Desa Tering, kalau pulang kampung harus ada upacara atau minimal melarungkan telur ke sungai, kisah itu lengkap dengan contoh-contoh kejadian yang menimpah keluarga si Tante. Ari yang jago diplomasi saat kepepet, berhasil meyakinkan si Tante kalau Vera akan tinggal di Tering, tidak ikut menjelajah ditemanin Santi. Yang nyaris langsung protes. Namun tertahan karena Rian dengan pura-pura ga sengaja menginjak kaki Santi dengan kerasnya. Santi meringis kesel.
                Lintang muncul diambang pintu warung, wajahnya yang putih memerah di cium matahari pagi. Tak terlihat letih di wajahnya, walau semalaman dia nyetir. Lintang tersenyum melihat korban keganasan teman-teman Jakarta menyantap udang gala.
                “Speed boat kita siap. Masih lama?”
                “Bisa nunggu sebentar lagi kan?” Rian menjawab sambil memasukkan sesuap nasi dan sepotong besar udang gala goreng ke mulutnya, dan mengunyahnya dengan nikmat.
                “Santai saja, kita ga akan ditinggal pesawat kok.” Lintang menjawab sambil duduk dan menyeruput sisa White Coffee-nya.
                Tiga puluh menit kemudian, ke enamnya sudah duduk di dalam speed boat yang mengarungi  alur sungai Mahakam menuju hulu. Enam pasang mata memandang karya megah Ilahi di depan mata. Lintang yang bukan kali pertama melakukan perjalanan seperti ini pun masih terpukau. Rian dengan sigap memidikkan kamera yang tergantung di lehernya.
                Dua puluh menit yang lalu, Lintang dan Rian sudah didalam speed berbody kayu. Sementra di atas dermaga terjadi perdebatan panjang antara Vera, Santi, Ari dan Dody. Vera bingung antara pengen ikut dan tidak. Sementara Santi dengan tegas menolak di tinggal di Tering.
                “Jauh-jauh dari Jakarta, masa Gue Cuma nongkrong nunggu disini? Gue ikut, apa pun yang terjadi. Lagian Ver, itu mitos dong, ayo naik.” Santi bicara sambil melangkah masuk ke dalam speed boat. Tangannya menarik tangan Vera, yang segera di tepiskan Vera dengan ragu.
                “Aduh…..gimana yah….mau, tapi aku takut terjadi apa-apa.” Keluh Vera. Ari merangkuh bahu Vera dan berkata pelan dan meyakinkan.
                “Kita tidak ingin memaksa, semua terserah kamu. Aku pikir Santi ada benarnya, sudah tidak zamannya kita percaya hal-hal begitu.” Ari menarik nafas dalam. Di putarnya bahu Vera, sehingga berhadapan dan menatapnya lembut. “Dan kalau kamu ikut, demi kebersamaan kita, aku sudah siapkan telur yang harus dilarung.” Ari mengeluarkan 2 butir telur ayam dari saku jaketnya.
                “Aku pikir kamu ikut aja, Ver. Ga da kamu, ga asik.” Dody bicara sambil ngedipkan mata. “Percaya, Insya Allah kita baik-baik aja. Lagi pula Ari sudah siapkan syaratnya tuh.” Dody melanjutkan. Vera masih terlihat ragu.
                “Ga harus sekarangkan melarutnya.” Tambah Dody sambil menggandeng tangan Vera yang kali ini memilih untuk menurut. Ari mengikutinya keduanya naik ke speed boat.
                Laju speed meninggalkan jejak gelombang yang mencumbu akar pohon yang berdiri tegak menahan abrasi. Dasar jejak pohon bakau yang tertancap dalam air bagai kan jari-jari yang menghujam pasti di bumi. Seekor kera kecil yang asik bermain diranting kecil, tiba-tiba terjatuh dan berenang lincah kepenggiran. Pemandangan itu tidak dilewat Rian begitu saja dengan kamera DSLR nya, dan Santi dengan kamera handy came-nya.
                Sebuah delta memecah sungai menyongsong di depan speed boat, motoris mengarahkan  speednya ke kanan.
                “Kita singgah di pulau yang itu yah, Pak.” Lintang mengeraskan suaranya, mengalahkan suara mesin speed yang menderu-deru. Dengan cekatan motoris mengarahkan speed boatnya ke pulau yang di tunjuk Lintang.
                Keenam sahabat itu meloncat turun dari speed boat, berjalan menyusuri daratan berpasir dan menyibak rindangnya ranting pohon perdu dan bakau. Dan menghilang dari pandangan motoris yang mengambil duduk santai. Sesekali dia menyapa pengemudi speed lain yang kebetulan lewat.
                Sudah lima belas menit ke enam remaja menelusuri hutan bakau. Beberapa ekor monyet terlihat melompat dari satu ranting pohon ke ranting berikutnya. Dan beberapa ekor burung tiba-tiba membumbung, merasa terganggu dengan ke hadiran mereka yang tiba-tiba. Dada keenam remaja terasa segar, terisi oksigen bersih dari polusi ibu kota. Wajah Santi memerah tersentuh matahari kalimantan. Keringat bergulir di dahinya, ketika angin semilir bertiup lembut dengan nikmat dirasakan angin sejuk itu. Tiba-tiba teriakan Vera menggelegar, memecah kesunyian pulau kecil sekaligus menarik perhatian teman-temannya. Tangannya menunjuk ke satu arah. Seekor ular berukuran sedang terlihat turun dari atas pohon dan berenang diatas air sungai, pergi menjauh tanpa memperdulikan anak-anak yang tepaku menatapnya. Semuanya menarik nafas lega, kembali meneruskan perjalanan menyusuri pulau bakau kecil nan eksotik. 
                Tiba-tiba Rian berteriak “Wow!” dan seketika berlari meninggalkan teman-temannya yang kaget, dan ikut berlari di belakang Rian. Sambil berlari “ada apa, Ian?” Santi bertanya dengan nafas terengah. Rian tidak menjawab, dan menghilang dibalik sebuah pohon besar.
                Tiga puluh menit berlalu, motoris memandang gelisah kearah jalur anak-anak menghilang tadi. Ditegaknya air mineral, tangannya menyekah keringat yang mengalir pelan didahinya. Motoris berdiri dan dengan sigap lompat ke tanah. Kakinya melangkah ke arah celah semak, tempat anak-anak terahir terlihat. Sesaat motoris menahan langkahnya, menoleh ke arah speedboad. Motoris tertegun, tanpa ada penyebab, sebuah ombak yang lebih besar dari biasanya bergerak cepat ke arah delta. Dan menghambur di permukaan pulau. Dibelakangnya terlihat lagi sebuah gulungan ombak. Motoris berlari ke arah speedboad yang belom jauh ditinggalkannya. Dengan cepat dia hidupkan mesin perahu dan menjauh dari gulungan ombak. Dari jauh dia melihat bagaimana dua ombak besar menghempas delta. Matanya terasa panas, nafasnya tercekat. Ada rasa takut melihat ombak yang tak biasa itu, tapi juga rasa bersalah dan tidak bertanggung jawab terhadap tamu-tamu mudanya, yang dengan terpaksa dia tinggalkan. Motoris menatap tajam ke delta, berharap melihat para remaja disana, atau melihat mereka berenang disungai, terbawa ombak yang tiba-tiba tadi. Tapi harapannya sia-sia. Seperti tersadar, motoris mencari handphonenya.
                Matahari mulai condong ke barat, siap kembali ke peraduannya. Beberapa speedboat warga terlihat tertambat di delta bersama satu buah speedboat milik kepolisian. Beberapa warga memilih masuk ke semak, menjelajah delta. Sebagian menunggu diluar. Berjaga-jaga agar bila ada dari anak-anak yang hilang tadi terlihat.
                Hampir satu jam warga mengelilingi delta, melalui daratan bagian tengah, pinggiran delta hingga menyusuri lewat alur sungai Mahakam. Tiba-tiba seorang warga berteriak dari dalam speedboat yang menyusuri sungai disisi delta.
“Itu.....itu.....” tangan orang itu menunjuk sesutu yang mengapung di sungai, dimainkan arus. 5 orang di atas speedboat melihat ke arah yang ditunjuk orang tadi.
“Apa yang kamu lihat?” Tanya yang lainnya.
“Itu yang putih kecil, telur ayam kampung.” Seru orang itu lagi.
“Iya....itu telur ayam.” Orang ke-3 menyahut.
“Aku ga ngerti. Cuma sebutir telur.” Timpal orang ke-2.
“Artinya dalam rombongan anak-anak itu ada yang orang asli sini yang merantau. Biasanya keturunan raja-raja. Harusnnya sebelum mereka berangkat tadi, harus ada upacara adat. Salah satunya melarung 2 butir telur ayam kampung.” Orang ke-5 menjelaskan.
“Ayo cari lagi. Mereka masih ada disini.” Orang ke-2 berseru.
“itu....ada lagi.” Orang yang tadi melihat lagi sebutir telur mengapung. Speedboat kembali bergerak menyusuri pinggiran delta.
                Ujung timur delta mulai temaram, langit senja menyapukan warna jingga indah sekaligus memberikan kesan sakral pada alam sekitar delta di tengah Sungai Mahakam. Dengan lembut ayunan arus sungai mengecup mesra pinggiran delta yang diam membisu.
                Dari celah dua pohon besar dan rindang yang tumbuh berdampingan terlihat 4 sosok berjalan gontai. Shinta, Ari, Rian dan Lintang. Ari terlihat di papah Lintang dan Rian, sementara Shinta berjalan dibelakang mereka. Begitu menemukan permukaan datar yang terbuka, mereka menjatuhkan diri. Rasanya mereka sudah berjalan berputar-putar delta yang tak terlalu besar itu selama berhari-hari. Pakaian mereka terlihat lusuh. Lintang bergegas kepinggir sungai ketika mendengar suara mesin speedboat. Sambil berteriak minta tolong.
Speedboat kepolisian yang memutuskan untuk sekali lagi mengelilingi delta, sebelum kembali ke desa Tering, bergegas menepi, menghampiri Lintang. Beberapa orang lompat dari dalam speed dan segera memberikan pertolongan. Ari di gotong, karena kakinya sebelah kanan terlihat bermasalah. Speedboat bergerak.
“Sebentar, Pak. Masih ada 2 teman kami yang tertinggal.” Lintang bicara lemah.
“Dimana kalian tadi terpisah?” Tanya petugas kepolisian.
“Kami ga ngerti dimana dan gimana kami bisa terpisah.” Jelas Shinta.
“Iya, Pak. Yang jelas waktu Ari melarung sebutir telur pertama kami bersama, bahkan Vera sempat mengambil sebutir telur yang tersisa dari Ari, pak. Setelah itu, kami tidak melihat Vera dan Dody lagi.” Jelas Rian. Dengan radio komunikasi yang dibawa, polisi itu memberikan informasi sekaligus perintah mencari sekali lagi ke petugas yang menyusuri sisi lain delta.
“Petugas dan warga akan terus mencari teman kalian. Kalian kembali dan tunggu di Tering saja.” Ujar polisi tegas. Ari meringis menahan sakit di kakinya.
Bulan menggantikan kedudukan matahari dengan berlahan, bergantian menjaga bumi agar nafas hidupnya tetap asri dan serasi. Cahayanya yang mempu menghadirkan suasana tenang nan romantis terpancar di permukaan sungai Mahakam yang tak letih mengalir menghilir, mencari laut yang menjadi tujuan akhirnya.
Ari, Lintang dan Shinta di evakuasi ke Rumah Sakit. Ari mendapatkan 9 jahitan dibetisnya yang sobek. Ari bingung, karena dia merasa tidak ada sesuatu apa pun yang menyangkut yang bisa membuat betisnya sobek menganga begitu besarnya. Dia bahkan tidak merasakan ada darah yang mengalir dari sobeknya. Dia cuma merasa tidak bisa menggerakan kakinya. Shinta, Rian dan Lintang pun mendapat sedikit perawatan untuk memar dan luka kecil ditubuh masing-masing.
“Apa yang terjadi sampai kalian bisa hilang di delta?” seorang perawat laki-laki bertanya, ketika ketiganya sudah di istirahatkan di ruang rawat.  
“Iya, Ian. Sebenarnya apa sih yang membuat kamu tiba-tiba kembali dan berlari?” Lintang bertanya yang disambut anggukan kepala oleh shinta dan Ari.
“Aku melihat seekor burung lumayan besar, sebesar ayam kampung gitu. Masa’ kalian ga liha?” Rian menatap temannya satu per satu, dan ketiganya memberi tatapan bingung. “terbangnya pelan dan rendah banget kok. Aku sempat motretnya tiga kali. Bulunya indah banget. Aku pengen motretnya lebih dekat lagi, makanya aku ngejar.” Ketiga temannya menatap Rian dengan tatapan aneh.
“Ian, aku ga ada lihat burung waktu kamu tiba-tiba berlari sambil teriak-teriak.” Jelas Shinta.
“aku juga.” Timpal Ari.
“Sama.” Tambah Lintang. Rian mengernyitkan dahinya. Karena dia yakin banget dengan apa yang dilihatnya.
“masa’ sih. Burung itu kan lumayan besar dan cukup dekat kok dengan kita. Malah kita melewatinya waktu dia bertengger di akar bakau.” Rian berkeras. Ketiga temannya kompak menggeleng dan mengernyitkan dahi. Rian bergegas mencari kameranya. Perawat yang dari tadi mendengarkan, mengambilkan kamera Rian dari meja. Rian menghidupkan kameranya dan mencari photo-photo burung yang dia maksud. “Seharusnya ada 3 photo waktu burung itu bertengger. Aku motretnya dari samping, agak jauh. Pas aku hampir melewatinya, dan aku berharap bisa motret dari sisi depan, tau-tau burung itu terbang. Terus aku kejar. Tau-tau ada ombak besar, burung itu ga tau kemana terbangnya.” Urai Rian lagi. Keningnya berkerut, photo yang dia cari ditemukan, tapi photo burung yang dia maksud ga ada. Cuma akar-akar bakau. Rian memperlihatkan ke teman-temannya dengan kecewa.
“Kok bisa ga ada yah?” Keluh Rian.
“Sudahlah, mungkin cuma fatamorgana.” Shinta berkomentar.
“Yang aku masih ga ngerti sama ombak besar yang ngantem sampai berapa kali itu.” Ujar Shinta lagi.
“Berapa kali? Kan cuma dua kali. Saya melihat kok, mas.” Motoris speedboat tiba-tiba muncul di depan pintu ruang rawat.
“Dua kali? Ada 5 kali ombak besar itu, pak.” Jelas Lintang.
“Iya. Saya melarung sebutir telur ketika ombak ke lima.” Ari menimpali.
“Vera dan Dody mana, Pak?” Shinta teringat dua temannya.
“Masih di ruang UGD.” Jawab motoris.
“Kondosi mereka?” Shinta mengejar lagi.
“Yang perempuan baik aja. Cuma luka-luka kecil. Yang laki-laki, sepertinya agak linglung dan tangan kanannya perlu di gips.” Jelas motoris.
“Alhamdulilah.” Serempak ke empatnya. “Yang penting selamat semua.” Lintang menarik nafas lega.
“Ma’afkan aku. Membuat semua celaka.” Rian bicara dengan nada pelan dan menunduk.
“ Ga ada yang perlu di ma’af kan. Ini semua resiko yang harus kita tanggung. Berpetualang ke tempat orang, tapi ga mau patuhi aturan daerah setempat.” Shinta membesarkan hati Rian.
Hari ketiga, ke enamnya sudah lebih baik. Tinggal kaki Ari yang di jahit masih di balut perban, dan tangan Dody yang masih harus di gips buat beberapa hari lagi. Dan ke enamnya sepakat meninggalkan desa Tering subuh ini. Di lepas orang dari kepolisian dan tokoh adat setempat, mobil berjalan  berlahan meninggalkan desa Tering. Di iringi semburat merah cakrawala pagi dan titik embun bening di ujung rumput, serta anggukan bunga-bunga kecil melepas ke enam remaja. Sementara di tengah sungai Mahakam, di delta yang terhampar diam, melintas dua ekor burung sebesar ayam berbulu indah dengan anggungnya. Dan menghilang di tengah gelombang sungai yang tiba-tiba membesar. Dan semua kembali tenang.

Balikpapan, 12 Mei 2014
Amanda Nasution 


Senin, 25 Juli 2011

TIRANI


Rembulan megah bertahta
Langit biru singgasana
Terasa abadi dibalik sebuah kuasa
Menari dalam balutan dusta
Menyanyi syair indah menyesakan
Gerombolan ular menjilat
Gerombolan ular meliuk
Melilitkan tubuh dan taring
Hingga batang pohon pun rebah

Hisapan darah menguras isi bumi
Dan pertiwi pun berurai air mata
Terlalu…..
Indah pulau dan angkasa
Anugerah Ilahi
Berkalung nestapa ditangannya kini
Wajah seram,serakah dan angkara
Tak perduli dengan wajah sendu dan lugu
Tak perdaya melawan tirani
Menyedihkan…..

Dan alam pun memperlihatkan murkanya
Menggelora dan menakutkan
“cobaan,kita harus lebih tawakal dan sabar”
Begitu kilah sang bulan angkuh
Lupa ini adalah peringatan baginya

Darah dan air mata terus berurai
Tanah jadi basah meranggas
Tak lagi terbendung mereka yang terus tersisih
Seharusnya….
Mereka bisa duduk dengan sepiring nasi dan lauk
Mereka bisa menyandang seragam dan sekolah
Mereka tak takut sakit karena mahal

Tart kekuasaan dibagi rata
Penjilat dan pengerat berpesta
Diatas air mata jelata melata
Dan mereka menari erotis
Terlalu…..


Solo,26 juli 2011
Amanda nasution

ASA KELAM

Mentari tak lagi jingga
Ketika subuh membelah langit
Menitikkan air mata duka
Tak terkira…….

lajur pelangi pudar
termakan kelamnya hari
beranjak berkeliling mengharap
serpihan kasih suci Ilahi
agar tak benar hancur adanya

mega kelam tak berhujung
berharap sedikit cahaya
menggairahkan hati
walau bulan tak lagi sama

terpenggal segenggam asa
terselip pada kelopak bunga marun
Tuhan…..jangan biarkan kelam menjadi pekat
Jangan biarkan mati sebuah asa…..


Solo, 24 Juli 2011

Amanda nasution

Minggu, 17 Juli 2011

film hoax

Image result for film hoax 

HOAX

Film bergenre drama thriller ini di garap 5 tahun yang lalu, 2012 dengan tujuan sebagai film konsumsi festival bertaraf international.

Film HOAX di buka dengan sebuah adegan yang menyenangkan dan, ide manis untuk menciptakan sebuah keharmonisan dalam keluarga. meski pun setiap orang dalam keluarga memiliki karakter dan rahasia masing-masing.

Film yang di buat di tahun 2012, tapi memadukan latar set yang menarik. Satu saat kita di tarik ke kehidupan modern, layaknya kehidupan kekinian. Satu sisi lagi penonton di ajak melongok adanya kehidupan lampau, ke kehidupan di tahun 1960-1970an. dan kita di ajak menikmati suasana yang menjadi latar karakter setiap tokohnya.

Dengan drama yang dimainkan dalam satu malam, Film HOAX mengajak penonton untuk ikut menikmati setiap karakter yang disajikan. Menikmati setiap bahasa yang tertutur, setiap gerak yang terlakon, setiap tatap yang berpadu. Sehingga penonton bebas berimajinasi tentang siapa dan kenapa, salah dan benar, atau antagonis dan protagonis tokoh di film HOAX.

Film yang menghadirkan suasana agamis, mistis dan modern ini pun di tutup dengan sebuah harmonisnya sebuah keluarga, walau tidak utuh. Dan setiap orang memiliki hidup dan rahasianya masing-masing.



 
film : Hoax
pemain : Vino G. Bastian, Tora Sidiro, Tata Basro, Jajang C Noer, Aulia Sarah dan Landung Simatupang
sutradara : Ifa Isfansyah
tayang : 1 Februari 2018




Jakarta, 30012018
amanda nasution



capung

mikro

Selasa, 10 Mei 2011

GELISAH MALAM

Aku menapak jalan
Bertabur merahnya kelopak mawar
Genit kerling bintang
Langkah ku bertabur aroma
Mawar merah menghias hati
Gaun malam ku terasa lembut
Langkah gemulaiku mengundangmu

Kemarilah kekasih
Jangan biarkan malam gelisah
Menunggu seribu cinta kita
Bertebar bersama hembusan nafas
Ayolah cintaku
Aku menunggumu diranjang cinta
Menanti rangkuh mesramu
Menanti kulum bibirmu yang rakus
Hingga desahku meninggi
Mari kita isi gelisah mala mini


Batas kota, 7 mei 2011
Amanda Nasution

S E R U N I

Seruni menari dibibir pantai
Bibirnya merapal sepenggal syair
Sebentar terdengar halus
Sebentar terasa menyentak
Matanya redup dan garang
Hatinya terbakar amarah
Yang memerah padamkan jasad gaunnya

Seruni bernyanyi riang
Tangannya mengepal kursi empuk
Dan kakinya di atas ambal Persia
Bicara lantang tentang indahnya dunia
Nikmatnya coklat panas dicangkir emas

Seruni bergerak gemulai
Jari lentiknya melenting kemilau
Cahayanya menyambar mata buta
Membuat tanda pada selembar kertas
Dan rupiah pun menghampiri
Tak berkutik sang rajawali
Terhujani lembar merah berharga
Diatas air mata pemilik tanah

Seruni tertawa renyah
Hingga peyek pun kalah renyah
Mengerti belenggu akan mampu ditepis
Hujan hujad hanya pujian terselubung
Karena jari lentiknya telah berbicara

Tak ada daya menghalau
Bias indah jemari lentik seruni
Memukau mat dan hati
Pasrah dan tersenyumlah
Hingga seruni benar terlepas


Amanda Nasution
Banjarbaru, 28 April 2011

Sabtu, 16 April 2011

sidang kabinet anak-anak


              Di bawah panggung beberapa kursi buat penonton disusun tak beraturan.
            Diatas panggung terlihat semua property, 3 orang peserta rapat dan 2 orang petugas keamanan sidang yang berdiri di 2 sudut ruang sidang. Setiap peserta sidang sibuk bicara masing-masing, demikian juga dengan dua petugas keamanan. Kemudian masuk 2 orang anggota rapat lainnya, yaitu anggota bid bermain dan imajinasi. Yang memasuki ruang sidang sambil membawa skate board dan kertas yang berisi catatan ilmiah hasil hayalan.
            Back Sound samar-samar
OS :
Pemimpin Sidang Kabinet Anak-anak memasuki ruang sidang…semua peserta sidang diharap tenang dan berdiri

            Back sound terdengar lebih jelas mengiring pemimpin sidang memasuki ruang sidang yang diikuti oleh 2 orang pengawal. Salah satu pengawal membawa  sebuah map. Berdiri disatu sisi belakang kursi pimpinan sidang.
            Pimpinan sidang mengambil posisi untuk duduk, satu pengawal yang tidak memegang map menarikan kursi, tapi kejauhan, sehingga pemimpin sidang terjatuh. Sambil membantu berdiri dan duduk dikursi yang telah diletakkan pada tempatnya, anggota sidang duduk.
Pengawal 1:
Maaf pimpinan sidang, saya tidak sengaja…maaf ya…..

Pimpinana sidang diam dan merengut. Melihat wajah pimpinan sidang, pengawal 1 mencoba merayu pimpinan sidang, sementara para peserta sidang ada yang tertawa, ada yang berdecak dan ada yang member komentar….
Pengawal 1:
Ayolah…pemimpin…maafin saya ya…kan ga sengaja

Pimpinan sidang:
Baik, saya maafkan….tapi kamu harus dapat hukuman yang setimpal

Peserta sidang:
Hukuman setimpal?

Anggota bid pendidikan:
Apakah hukumannya harus membaca buku pengetahuan umum selama 5 tahun tanpa berhenti

Anggota bid uang saku:
Lebih baik uang sakunya saja disetop selama 2 tahun

Anggota bid bermain:
Atau lebih baik jatah main PSnya dikurangi 120 jam?


Pengawal 1:
Jangang…. jangan pimpinan sidang….jangan hukum saya seberat itu…sayakan sudah bilang ga sengaja….
Masa’ saya dihukum seberat itu karena saya tidak sengaja, sementara anak yang mengambil uang jajan anak lain dibiarkan bebas tanpa hukuman….
Pimpinan sidang:
Diam!
 saya yang memutuskan
Karena selain saya pimpinan disini, saya juga korbannya.
Pengawal satu!
Pengawal 1:
Siap pimpinan sidang

Pimpinan Sidang:
Kamu saya hukum! Jatah susu kamu dikurangi 25% selama 2 hari berturut-turut!
Mengerti!

Pengawal 1:
Mengerti pimpinan siding

Pengawal 1 berjalan gontai menuju satu sisi belakang kursi pemimpin rapat. Saat pengawal 1 berjalan pemimpin sidang berkata

Pimpinan sidang:
Anggota bid konsumsi!

Anggota bid konsumsi:
Siap pimpinan sidang

Pimpinan sidang:
Kamu dengar yang saya bilang tadi

Anggota bid konsumsi:
Yang mana ya pimpinan sidang

Pimpinan sidang:
Hukuman buat pengawal 1

Anggot bid konsumsi:
Loh…itu kan bukan bidang saya pimpinan sidang
Itu bidang pendidikan, pimpinan sidang

Semua bingung dan saling berbisik

Pimpinan sidang :
Kamu tidak mendengar keputusan hukuman yang saya berikan tadi?
(anggota bid konsumsi menggeleng tidak mengerti)
Penonton sidang!

Para penonton sidang:
Ya pimpinan sidang…..

Pimpinan sidang:
Kasih tau anggota bidang konsumsi, hukuman apa buat pegawal 1


Penonton sidang:
Jatah susu pengawal 1 dikurangi 25% selama 2 hari….

Anggota bid konsumsi:
Oh itu….itu sih saya tau….mmm saya denger kok keputusan itu
Suer deh….
Siap bos! Jatah susu pengawal 1 pasti saya kurangi mulai minggu depan

Pimpinan sidang:
Apa? Minggu depan? Mulai sekarang……
Anggota Bid Konsumsi:
Eh…iya…maksud saya mulai hari ini, pimpinan sidang

Pimpinan sidang mengangguk puas….. dan duduk
Pimpinan Sidang:
Narator….mulai ritualnya!

Narator (OS):
Siap pimpinan sidang
Menyanyikan lagu wajib! Semua peserta dan penonton sidang harap berdiri

Semua anggota dan penonton sidang berdiri dan bersiap menyanyikan lagu wajib dengan gaya yang sudah ditentukan
Narator (OS):
Siap…Hitungan ke-3 dengan nada 3 / 4
Tarik nafas….
1….2….3
Semua menyanyikan lagu wajib, yaitu Pelangi-Pelangi

Pimpinan Sidang :
Narator selanjutnya

Narator (OS):
Siap pimpinan sidang
Lagu ke -2 dengan nada 1 / 2
Di hitungan ke 1
Siap….3….2…1

Semua menyanyikan reff lagu kepompong dengan gaya
Narator (OS):
Selesai pak boss
Semua boleh duduk kembali dan menikmati suguhan yang tersedia
Semua duduk kembali dan sidang dimulai
Pimpinan Sidang:
Kita mulai sidang kita
Semua sudah siap?

Anggota bid bermain:
Maaf pimpinan sidang
Saya ijin ke toilet

Anggota bid Uang Saku:
Yeee ga dari tadi sih
Sidang baru mulai sudah ijin
Dasar beser…..

Anggota bid pendidikan:
Bukan baru dimulai, tapi baru mau dimulai

Anggota bid imajinasi:
Bener itu…baru mau dimulai

Anggota bid Uang Saku:
Salah sedikit langsung protesssss

Anggota bid pendidikan:
Harus itu…kalau salah dibiasain susah nanti saat UAN

Anggota bid konsumsi:
Kok bawa-bawa UAN? Apa hubungannya?


Anggota bid pendidikan:
Ada…mmmm….mungkin anggota bid imajinasi bisa menjelaskan

Anggota bid imajinasi:
Lempar batu sembunyi coklat

Penonton Sidang:
Maksudnya?

Anggota Bid Imajinasi:
Bagi dong coklatnya….

Penonton:
Uuuuuuuuuuuu

Anggota bid imajinasi:
Hubungannya, menurut imajinasi saya,
Kalau saat UAN jawabnya salah sedikit, salah semua deh
Ga lulus deh…..
Penonton:
Contohnya dong

Anggota bid pendidikan:
Kalo soal matematika 2+2 =4
Terus dijawab 4,5 jadi salah. Walau bedanya Cuma setengah tetap aja disalahkan

Anggota bid Uang saku:
Aduuuh….cepetan….boleh ijin ga
Kebelet nih…atau ngompol disini aja ya….

Pimpinan sidang
Udah…..udah….jangan didebat lagi
Sebentar saya pikirkan dulu…..


Anggota bid Uang Saku:
Pimpinan sidang, kalau ga di ijinkan ada 2 bencana yang menghadang pimpinan


Pimpinan Sidang:
(kaget) bencana? Apa saja itu?

Anggota bid uang saku:
Yang pertama : saya akan ngompol aja disini, biar semua basah dan bau
Yang kedua: jatah uang saku pimpinan sidang saya sunat….mau?

Pimpinan Sidang:
Jangan….jangan….jangan….
Saya ijinkan kok…hehehhhe tapi jangan kelamaan ya
Kita dikejar durasi

Anggota bid Uang Saku:
Gitu dong dari tadi….kebelet tau…

Anggota bid Uang Saku keluar dari ruang sidang dengan setengah berlari…..

Penonton:
Pimpinan sidang ternyata takut ya uang sakunya dipotong

Pimpinan sidang:
Ya jelas lah….kalau sampe dipotong saya jajan apa nanti di sekolah
Wong  bapak-bapak terhormat kita ga pernah gajinya dipotong,  malah tunjangannya ditambah

Anggota bid Pendidikan:
Sudah….sudah….sudah…..
Kita teruskan dulu saja sidang ini
Masalah uang saku kita bahas belakangan


Pimpinan Sidang:
Hehehehhe
Iya kita mulai dari saudara anggota sidang bidang pendidikan
Ada yang mau disampaikan?

Anggota bid pendidikan:
Sebentar bos
Saya buka naskah saya dulu
Eh maksud saya catatan saya….maaf sutradara

Anggota bid imajinasi:
Semua juga taulah ga ada yang hafal naskah

Pimpinan sidang:
Bisa diteruskan atau mau debat dulu
Sekali lagi kita dikejar durasi….benar sutradara?

Sutradara (OS):
Benar

Anggota bid pendidikan:
Begini pimpinan sidang, saya berharap agar nilai UAN tidak dijadikan patokan untuk kelulusan
Dan cara belajar disekolah bisa lebih santai, berupa interaktif

Penonton:
Interaktif itu gimana sih?

Anggota bid Pendidikan:
Jadi siswa tidak hanya jadi pendengar materi pelajaran, tapi juga ikut aktif menggali isi materi pembelajaran


Anggota bid bermain:
Ga ngerti. Jelasin lebih jelas…sejelas-jelasnya
Anggota bid Pendidikan:
Gini loh….banyakan main sih….
Jadi lebih banyak diskusinya, dari pada dijelasiiiiin terus sampe kita ngantuk
Misalnya soal matematika, kalau sudah dijelaskan cara pengerjaannya, penyelesaian soalnya dikerjakan oleh kita
Terus soal IPA misalnya, sebelum dijelaskan yang sebenarnya tentang magnet, lebih baik kita diskusikan dulu tentang magnet itu sendiri. Jadi intinya banyak diskusinya.

Anggota bid bermain:
Ohm (menguap)
Emang ga enak ya denger penjelasan kepanjangan, ngantuk!

Anggota rapat lainnya:
Setuju!!!

Pimpinan rapat:
Nah…bukannya sekarang sistim pembelajaran sudah sangat santai
Kamu sendiri suka keluar masuk kelas saat belajar

Anggota bid pendidikan:
Bukan begitu pimpinan
Saya keluar karena kebelet aja

Anggota bid konsumsi
Kebelet pengen jajan ya…..

Anggota bid pendidikan:
Eh….iya
Tapi ga itu aja ketua….kadang-kadang bosan juga
Mungkin sebaiknya alat peraga diperbanyak, jadi belajar tidak membosankan

Pimpinan sidang:
Itu berkaitan dengan anggaran pendidikan dong


Anggota bid pendidikan:
Ya iyalah……..
 yah moga-moga aja ada yang dengar…jadi anggaran pendidikan ditambah

Anggota bid imajinasi:
Amin…jadi bisa ada laboratorium buat mewujudkan imajinasi dan bereksperimen
Robot yang aku buat ga Cuma berupa gambar dan dibentuk dengan karton begini

Pimpinan Sidang:
Jadi anggaran pendidikan buat pengembangan minat dan bakat ya

Anggota bid pendidikan:
Bukan itu saja, tapi juga buat alat peraga sehingga belajar lebih gampang

Pimpinan Sidang:
Oke…..(mencatat sesuatu di note booknya)
Mengenai UAN…sepertinya kita harus berharap ada pergantian menteri pendidikan
Karena kata ibu saya, setiap ada pergantian menteri pendidikan, peraturan pun berubah
Nah semoga perubahan itu termasuk system UAN dan perubahan anggaran pendidikan, maksud saya ditambah.

Anggota bid Uang Saku:
(OS) Assalamualaikum…..aku mendengar kata anggaran…..pasti berkaitan dengan uang

Anggota bid uang saku masuk ke ruang sidang, tapi nyaris jatuh kesandung kaki pengawal. Tapi keburu ditampung oleh pengawal yang satunya.

Anggota bid uang saku:
(ke pengawal 4) makasih ya
(Ke pengawal 3) Gimana sih…berdiri sembarangan

Pengawal 3:
Loh kan situ sendiri yang nyandung…saya disini sudah dari tadi….


Anggota bid uang saku:
Eh berani melawan…..uang saku kamu saya potong 25% dan saya kasih ke kamu (menunjuk ke pengawal 4) karena sudah membantu saya

Pengawal 3:
Wah…ga nyenengin nih….ga adil….masa’ gitu aja pake motong uang saku sih….

Pengawal 3 berjalan mendekatin Anggota bid uang saku dengan sikap menantang, Anggota bidang uang saku mengambil sikap melawan….dan keduanya berantem….Pengawal 1 dan 4 berusaha melerai penonton ngomporin….sampai akhirnya salah satu anggota sidang ikut melerai….

Pimpinan sidang:
Sudah….sudah….sudah….
Masa’ gitu aja ribut sih……..
Malu sama penonton sidang
Maaf ya…biasa lah anak-anak

Semua peserta sidang kembali ke tempatnya masing-masing. Pimpinan sidang kembali memimpin sidang dengan permasalahan di bidang yang lain.

Pimpinan Sidang:
Bidang apa lagi yang mau di bahas duluan?

Anggota sidang berebutan untuk duluan….suasana jadi ribut….Pimpinan Sidang jadi bingung….
Pimpinan Sidang:
Pengawal!!!!!!!!
Kalau liat kondisi seperti ini jangan menunggu perintah dong

Pengawal 2 maju ke depan meja sidang dan mengetokkan palu sidang dengan keras. Semua terdiam kaget….
Pengawal 2:
Masih ada yang berani ribut?
Atau mau saya lepaskan peluru air dari pistol air ini?

Seketika jadi diam semuanya dan tenang. Pimpinan sidang mengangguk puas. Pengawal 2 kembali ke posisi semula
Pimpinan Sidang:
Anggota bid imajinasi
Ada yang mau disampaikan?

Anggota bid imajinasi:
Siap Pimpinan sidang…pasti dong…
(sambil berdiri dan mulai berjalan sambil memainkan sebuah pesawat kertas ditangannya)
Bayangkan kalau pesawat ini jadi sungguhan…kemudian bisa dirubah menjadi robot yang kemudian bisa membantu kita mengerjakan soal matematika atau IPA…

Penonton:
Intrupsi pimpinan sidang

Anggota bid imajinasi:
Tidak boleh mengintrupsi sebuah imajinasi yang sedang dijabarkan
Karena itu akan menghambat kelangsungan dan penyelesaian dari imajinasi, dan pada akhrinya akan menghambat perkembangan Negara ini.

Penonton:
Apa hubungannya antara imajinasi dan perkembangan Negara?

Anggota bid imajinasi:
Makanya, nonton tv itu jangan Cuma berita, tapi film juga ditonton
Sebaliknya jangan film aja, tapi juga berita ditonton, jadi imbang
Jadi gini, berdasarkan sebuah imajinasi untuk terbang, maka terciptalah balon terbang pertama didunia…dan berdasarkan hayalan tentang teknologi canggih dan kemudian diwujudkan lah, dan Jepang jadi Negara maju dan inovatif.

Anggota bid pendidikan:
Terus…gimana?

Anggota bid imajinasi:
Biarkan kita mengembangkan daya khayal sehingga bisa mencipta sesuatu yang…mmmm dahsyat….dan tentunya harus didukung oleh dana pengembangan bakat. Sehingga kita siap bersaing dengan dunia luas….kalau sekarang pasar bebas dunia ditetapkan, kita pasti tersisih oleh tenaga asing lebih pintar dan inovatif.

Anggota bid konsumsi:
Jangan pesismis begitu
Ga baik buat semangat kerja orang lain

Anggota bid imajinasi:
Bukan pesimis
(berjalan kemejanya mengambil sebuah kertas bergambar robot dan ditunjukan kesemua, penonton dan anggota rapat)
Nih liat sendiri, ini rancangan robot yang saya buat sejak 6 bulan yang lalu, karena ga ada dana experiment, jadi lah robot ini hiasan diruang tidurku….


Anggota bid bermain:
Seandainya robot itu bisa diwujudkan…..mungkin akan banyak membantu pendapatan orang tua kita…..

Anggota bid Uang Saku:
Yah….bisa membantu orang tua kita menambah jatah uang saku

Anggota bid Konsumsi:
Otamatis bisa juga menambah jatah makan dan susu kita

Anggota bid pendidikan:
Dan menambah dana pendidikan kita ya….

Pengawal 1:
Juga menambah susu bagi teman-teman kita yang ga bisa beli susu orang tuanya


Pemimpin sidang:
Dan yang pasti kita ga perlu lagi mengadakan sidang cabinet anak-anak ini buat curhat
Ehm…..masih ada yang lain?

Penonton:
Lanjut pimpinan sidang

Anggota bid konsumsi:
Sekarang giliran saya, pimpinan sidang

Pimpinan sidang mengangguk menyetujui. Anggota bid konsumsi membuka catatannya dengan serius dan sedikit kelabakan

Anggota bid uang saku:
Ayo buruan…..durasi…..

Anggota bid pendidikan:
Iya….sutradara ntar ngomel kalo ke malaman….

Anggota bid konsumsi:
Sebentar……aduh dimana tadi ya?
Rasanya tadi ada disini kok


Sutradara (OS):
Nyari apa?

Anggota bid konsumsi:
Catatan aku tadi dimana ya? Sorry sutradara aku lupa naronya..

Narator (OS)
Kaya’nya ada disini deh…..
Hehehehe kebawa, aku pikir ini script nya narator
Maaf….maaf….maaf….

Anggota bid konsumsi pinggir panggung mengambil kertas yang dimaksud dari tempat narrator dan kembali kemejanya…

Anggota bid konsumsi:
Maaf teman-teman dan penonton
Kesalahan program (tertawa tidak lucu)…saya mulai saja ya
(membaca catatan sambil jalan yang lain mengikutin dengan pandangan)
Menurut data yang ada ditangan saya ini, diluar lingkungan sekolah kita dan komunitas kita ini, masih banyak teman-teman kita yang makannya kurang, baik dari nilai gizinya maupun jumlah yang dimakan….gimana mau pintar kalau gizinya kurang? Gimana ok kalau susunya juga ga memadai bahkan ga minum susu….ini harus ada yang mikirin
Masa Indonesia sudah merdeka 65 tahun masih ada aja yang kelaparan dan kurang gizi…
Bumi Indonesia kaya, tapi masih ada aja masyarakat yang ga mampu memberi makan yang memadai untuk anaknya…memangnya uang hasil menggali bumi Indonesia itu dikemanain semua?

Anggota bid uang saku:
Menurut saya yang kaya itu hanya sebagian orang saja….sebagian lagi Cuma menonton….timpang….timpang…..

Anggota bid imajinasi:
Kata papa ku, yang dikerok bumi Indonesia uangnya masuk kantong terus disimpan di luar negeri gitu…

Anggota bid pendidikan:
Malah aku dengar ada buat mengehindari pajak, pendapatannya dikurang-kurangin
Padahal pajak itu sebagaian buat kesejahteraan orang banyak loh….

Penonton:
Sebagian saja tapi loh…..

Pimpinan sidang:
Sudah…sudah…sudah….
Ayo teruskan….kita dikejar…….

Penonton:
Durasi……..

Anggota bid bermain:
Aku dulu ya (ke anggota bid uang saku dan mengangguk setuju)
Bermain itu penting buat melatih otot motorik dan imajinasi kita, tapi banyak anak-anak yang ga sempat bermain, padahal usia kita ini sampai dengan 13 tahun, itu masih bermain loh….

Anggota bid pendidikan:
Itu yang aku maksud tadi, kita bisa belajar sambil bermain…menurut aku itu lebih gampang buat kita mengerti, dari pada teoriiiiiii terus.

Anggota bid imajinasi:
Iya, dengan bermain sambil belajar kita lebih bisa mengembangkan imajinasi kita, kita jadi lebih kreatif….

Pengawal 4 :
(kearah pengawal 2) main game ya?
(pengawal 2 mengangguk, pengawal 4 mendekati) pinjam dong
(pengawal 2 membalikkan badan) pinjam dong…sebentarrr aja…..
Bosen nih ga ada berantemnya

Pengawal 2:
Enak aja…kan kamu punya sendiri

Pengawal 4:
Aku ga bawa….tadi kelupaan
Pinjam ya….sebentarrrr aja

Pengawal 2:
Nggak! Lagi asik nih….

Pengawal 4:
Pelit akh…pinjam
merampas HP pengawal 2 dan membawanya ke ujung lain panggung, pengawal 2 mengejar, pengawal 4 pindah sambil terus memainkan game di HP.

Pengawal 2:
Balikin…
Sambil tetap mengejar kesekeliling panggung, tapi diacuh kan oleh pengawal 4. Lalu pengawal 4 turun dan duduk diantara penonton sambil terus bermain….pengawal 2 tetap diatas panggung sambil menatap menahan tangis.

Pengawal 2:
Balikin dong….buruan…..
Pimpinan sidang kok diam aja sih?
Apa karena dia kerabat pimpinan sidang? Jadi bisa bertindak sesuka hatinya dan ga kebal hukum?

Pimpinan sidang:
Eh ga gitu juga….
Pengawal 4! Jangan bikin malu….(Pengawal 4 tetap cuek)

Anggota bid konsumsi:
Apa perlu kita kurangi jatah susu dan snacknya ya


Pengawal 4:
Apa?

Anggota bid Uang Saku:
Ga itu saja, ini pelanggaran serius merampas punya orang lain atau Negara, ga perduli jumlahnya banyak atau sedikit hukumnya harus serius…uang saku kamu aku potong 50%.

Pengawal 4:
(Sambil jalan naik ke panggung) ga bisa begitu dong….ga bisa seenaknya….kalian kan tau saya ini keluarga Pimpinan sidang….gimana pimpinan sidang? Mereka ga bisa begitu ke saya…kita Kan saudara…seenaknya menghukum saya….

Pimpinan sidang:
(Menghampiri dan menepuk bahu pengawal 4) benar kami saudara…. (Tersenyum)
Tapi bukan berarti kamu bisa sesuka hatimu (sambil mengambil paksa HP dari tangan pengawal 4) hukum tetap harus dijalankan…. (Mengembalikan HP ke pengawal 2). Ga ada yang kebal hukum, jelas?

Penonton:
Apa itu kebal hukum, pimpinan sidang?

Anggota bid pendidikan:
Kebal hukum itu ga bisa dihukum, ada aja orang yang membantu buat lepas dari hukuman…kira-kira begitulah…

Semua anggota + pimpinan sidang:
Kalau salah ya maaf…namanya juga anak-anak…..

Sutradara:
Lanjut…….

Pimpinan sidang:
Semua kembali ke tempat masing-masing
Sidang kita lanjutkan
Ayo anggota bid mana lagi yang belum bicara?

Anggota bid uang saku:
Saya yang belom bicara pimpinan sidang….(angkat tangan sambil berdiri)
Boleh saya bicara sekarang?

Pimpinan sidang mengangguk yang diikuti oleh anggota sidang yang lainnya

Pengawal 1:
Ini biasanya daerah rawan

Pengawal 2:
Maksudnya?

Pengawal 4:
Anak baru sih…
Makanya jangan Cuma main game
(pengawal 2 melotot ga suka)

Pengawal 1:
Biasa masalah jatah uang saku suka bikin ribut
Kan gitu contoh yang sering kita liat disinetron TV

Pengawal 3:
Ga Cuma sinetron TV loo…
Bapak-bapak yang cabinet dewasa ama wakil kita aja, belum kerja udah ribut masalah tunjangan dan fasilitas

Penonton:
Tunjangan itu apa sih?

Pengawal 3:
Ga tau…yang aku tau gule tunjang di restoran padang
(sambil seakan membayang kan gule tunjang)

Sutradara (OS):
Enak itu…aku juga doyan kok…tar kita beli ya…

Pengawal 3:
Minumnya teh manis ya Om Sut….

Pimpinan sidang:
Kok jadi bicarain gule tunjang sih?
Diterusin ga nih….durasi….durasi….

Pengawal 3 + Sutradara (OS):
Lanjutin bos….lanjutin

Pimpinan sidang:
Silahkan anggota bid Uang saku

Anggota bid Uang saku:
Terimakasih pimpinan sidang
Sidang mulai tak terarah sepertinya (nada menyepelekan)
Saya mulai, sepertinya kita juga harus ikut prihatin terhadap pendapatan orang tua kita yang makin susah cari uang, sementara sembako terus naik, saya akhwatir kalo kita egois, bisa-bisa adik-adik kita ga dapat gizi yang baik…tar ada generasi muda ga mutu lagi…..sementara pendidikan makin hari makin mahal loh…kapan ya kita bisa kaya’ Belanda, sekolah bisa gratis…

Pengawal 4:
Banjarbaru buat SD sih udah gratis…walau pun belum sebagus Belanda…tapi Alhamdulilah udah lebih baik

Anggota bid pendidikan:
Itu Cuma banjarbaru, Indonesia kan ga Cuma Banjarbaru…

Anggota bid Uang Saku:
Masalahnya di dana…uang….uang….seharusnya pendapatan yang ada banyak di pake buat membina generasi muda, dengan target paling lama 20 tahun kemudian Indonesia punya tenaga muda handal buat memajukan Indonesia. Ini ga hasil dibagi buat mobil baru, rumah dinas baru dan tunjangan yang ga enak kalo di gule….padahal yang lama juga masih bisa dipake lah…tunjangan gede kurang gede…hasil kerja belum tau….

Pimpinan Sidang
(Kaget) Hush…..bicara apa kamu…..jangan suka bicarain orang tua akh…pamalih…bisa kualat nanti….lagian so’ tau kamu nih…..

Anggota bid Uang Saku:
Eh iya…maaf…..maaf bapak-bapak….yang buat scenario nih….



Anggota bid bermain:
Jangan suka cari kambing hitam….walau ada contoh dari orang tua, tapi kalo ga bagus jangan dipake….

Anggota bid imajinasi:
Iya….kadang kita yang anak-anak harus lebih dewasa dari pada orang dewasa ya….
Seperti bapak-bapak dan ibu-ibu di senayan, dikit-dikit berantem, main pukul, main jotos, main lempar…kenapa ga jadi petinju aja ya? (tertawa)
Tapi kita ga boleh niru loh……

Anggota bid konsumsi + pendidikan:
Mau jadi apa Indonesiaku ini….

Pimpinan sidang:
Eh….dibilangin kok jadi malah ngomongin orang dewasa sih…dosa ngomongin orang tua tau’…..ayo terusin (menoleh ke anggota bid Uang saku)

Anggota bid uang saku:
Siap pimpinan…jadi saya pikir dan putuskan uang saku dan tunjangan kita juga harus dipangkas, kita pake buat ngasih teman-teman yang belum dapat gizi baik…gimana?

Pengawal 4:
Uang saku saya sudah dipotong 50% kalau dipotong lagi saya jajan apaan?
Pimpinan sidang, ini jadi tidak adil…

Pengawal 2:
Itu salah kamu, mengambil paksa barang orang

Pengawal 4:
Kamu juga harusnya dihukum, dalam sidang kok main game…kan digedung dewan ga ada yang nyontohin begitu…kalau bosan ya pura-pura denger aja,  pada hal kan tidur….

Anggota bid imajinasi:
Itu bukan tidur, tapi lagi mengolah imajinasi untuk buat sebuah keputusan

Anggota bid bermain:
Bener, pengawal 2 juga harus dihukum nih…jatah mainnya kita potong aja 10 menit

Pengawal 4:
Ga adil kalau gitu…saya ga terima

Anggota bid konsumsi:
Iya ga adil…harus ada pemotongan uang saku juga dong…gimana sih..

Anggota bid uang saku:
Itu hak saya buat memberi sangsi pemotongan uang saku apa tidak, jangan ikut campur dong….

Anggota bid konsumsi:
(mukul meja) siapa yang ikut campur…saya Cuma bicara fakta…memang itu hak kamu

Anggota bid uang saku:
Tapi ga usah pake mukul meja dong…mo nyontoh senayan ya?

Pengawal 4:
Pokoknya saya ga terima dipotong lagi jatah uang saku saya
Dan saya minta pengawal 2 dipotong juga uang sakunya

Pengawal 2:
Enak aja…tadikan saya yang dirugikan….

Keributan terus terjadi, pimpinan sidang bingung menenangkan dibantu oleh pengawal 3 dan 1…suasana terus jadi ribut …tiba-tiba….

Pengawal 1:
(meniup peluit dengan kerasnya dan memukulkan palu sidang dengan kencang sehingga semua terkejut dan mendadak diam)
Jangan meniru yang ga baik, walau pun itu dari pemimpin tertinggi kita….gimana sih
Pimpinan sidang dari tadi sudah teriak-teriak ga didengar sih….
Silahkan pimpinan sidang
Pimpinan sidang:
Astagfirullah……kok jadi sama dengan tragedi senayan ya…
Tolong teman-teman jangan ditiru…itu ga bener….biar aja yang tua ga bener, kita yang muda-muda membenarkan langakah salah yang tua-tua….
Semua kembali ketempatnya…….
Penonton…maaf…saya jadi malu….(kearah penonton)
(kembali ke anggota sidang) saya pikir kita harus menenangkan diri dulu untuk sebuah keputusan yang baik….jadi saya tutup dulu aja sidang cabinet anak-anak ini….ampun….ampun….
Penonton maaf banget ya
(ambil posisi siap dalam duduk) sidang dengan sangat menyesal saya tutup dalam kondisi yang ga enak….(Palu diketokan)


Narator (OS)
Semua berdiri
Lagu Penutup : ……..
Lagu pada mu negeri………
(semua anggota sidang turun)

Narator (OS)
Demikian sidang cabinet anak-anak kali ini yang berakhir ribut karena jatah uang saku yang terpaksa dikurangin……
Lebih dan kurang kami mohon maaf dan harap maklum, namanya juga anak-anak….
Assalamualaikum wr.wb…






Banjarbaru, 6 Maret 2010
Amanda Hanifa Nasution